Please update your Flash Player to view content.
 QUBER - get it free

PostHeaderIcon Cake Buah Naga dari Batam Dipatenkan

Cake buah naga berasal dari Batam, sudah dipatenkan. Hak paten cake buah naga itu diperoleh Yosep Didik Hernanto, pemilik Sallary Bakery di Palm Spring Batam Centre, setelah mendaftarkan ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Selain cake buah naga, ada sembilan jenis kue atau penganan lagi yang telah dipatenkan.

Semua jenis penganan itu berbahan dasar buah naga. Yakni kukus buah naga, bolu buah naga, wajik buah naga, pukis buah naga, kue lumpur buah naga, apem buah naga, kue mangkok buah naga, sus buah naga, dan mie buah naga.
”Kukus buah naga itu awalnya saya daftarkan dengan nama brownies buah naga. Tapi nama brownies itu sudah ada yang patenkan jadi ditolak (pihak Ditjen HKI) dan saya diminta mengganti namanya,” ujar Yosep Didik Hernanto, kemarin.

Menurut pria yang biasa disapa Didik ini, pendaftaran hak paten sepuluh jenis penganan itu didaftarkan 2 November 2010 dengan nomor agenda D102010039171. Setelah pihak HKI memeriksa, memang benar belum ada pihak mana pun yang memiliki hak paten cake buah naga atau yang pertama kalinya didaftarkan oleh Didik. Dengan diperolehnya hak paten itu, lanjut Didik, pihak lain tidak bisa lagi menggunakan nama cake buah naga.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Batam Ahmad Hijazi, juga mengatakan hal yang senada bahwa setelah Didik mendapatkan sertifikat hak paten itu, pihak mana pun tidak bisa lagi menggunakan nama cake buah naga. ”Kalau oleh HKI, nama itu tidak bisa dipakai (pihak lain) lagi. Tapi kalau untuk ijin usaha, nama itu tidak masalah,” kata Hijazi.

Lebih lanjut ia mengatakan, setelah memperoleh hak paten, Didik bisa mengajukan komplain kepada pihak lain yang menggunakan nama cake buah naga atau penganan lainnya yang sudah dipatenkan. Terkait dengan itu, Disperindag, katanya, tidak bisa melarang karena urusannya langsung dengan HKI.

Sementara itu, Muslim, pegawai Ditjen HKI, menegaskan proses pengajuan hak paten oleh Didik itu telah melalui pemeriksaan. Karena belum ada yang terdaftar dengan nama cake buah naga, sehingga Ditjen HKI mendaftarkannya.

”Kalau ada lagi pihak lain yang menggunakan nama itu, pak Didik bisa somasi orang yang menggunakan nama itu atau yang mirip nama itu,” jelasnya.

Somasi bagi pihak lainnya yang menggunakan nama yang telah dipatenkan, lanjutnya, dilakukan tiga kali. Jika tidak diindahkan sampai somasi terakhir, klaim atau tuntutan kepada pihak pihak lain itu bisa diajukan.

Menurut Muslim, pihak lain sering menggunakan nama produk yang sudah ada patennya karena ketidaktahuannya atau pura-pura tidak tahu.

”Padahal nama yang sudah dipatenkan itu tidak bisa lagi dibuat dengan nama yang mirip apalagi sama. Mirip 20 persen saja tidak bisa. Jadi itulah perlu sosialisasi bagi pelaku usaha,” katanya. Sumber : BatamPos (uma)