Please update your Flash Player to view content.
 QUBER - get it free

PostHeaderIcon Sulap Buah Naga jadi Kue

Yosep Didik Hernanto duduk di kursi sofa ruang tamunya sembari menerima telepon dari pelanggannya di rumahnya di Perumahan Palm Spring Blok C No.46 Batam Centre, Kamis (16/9) lalu. Di belakangnya tampak banner yang bertuliskan Sallary Bakery, Cake Buah Nagas OB alias Original Batam.  Di belakang banner itu tersaji di meja kue-kue tradisional seperti kelepon, kue lumpur, dan kue lainnya seperti roti kukus dan brownies kukus. Kue-kue itu bahan utamanya bukan terigu seperti kue pada umumnya. Bahan utamanya adalah buah naga. Makanya kue itu berwarna merah mudah pekat dan putih. Kue itu bertaburan biji-biji buah naga. ‘’Warnanya itu memang warna asli buah naga. Yang putih ini pakai buah naga putih. Kelepon yang hijau pakai pandan tapi bahannya tetap buah naga,’’ jelas pegawai PLN Batam yang biasa disapa Didik ini.
Ide membuat kue berbahan buah naga ini didapat Didik setelah melihat perkebunan buah naga di Rempad dan Galang. Ketika jalan-jalan ke sana setelah pindah ke Batam September 2009, ia heran melihat buah naga yang bisa tumbuh di tempat yang panas seperti di Batam.  ‘’Biasanya buah naga itu tumbuh di daerah yang cuacanya sejuk seperti Malang. Tapi kok di Batam bisa tumbuh,’’ katanya.

Ia makin heran karena pohon naga tumbuh dengan buah bagus. Ia melihat buah naga Batam punya potensi. Sepulang dari sana ia berpikir keras untuk menyulap buah naga itu menjadi kue. ‘’Saya terobsi setelah melihat buah naga itu. Saya ingin menciptakan kue khas Batam,’’ ujarnya. Didik tidak banyak membuang waktu sambil berpikir, ia bereksprimen membuat kue-kue tradisional dengan bahan buah naga. Bahkan cake untuk ulang tahun atau kue pesta menggunakan bahan buah naga. Ia bereksprimen dibantu dua karyawannya. ‘’Setelah saya praktekkan semua hampir berhasil. Hanya satu yang gagal, kue mangkuk jadi sampai tiga kali ekprimen baru berhasil,’’ ungkapnya.

Pria asal Kediri ini piawai membuat kue dengan bahan baru karena sejak kecil memang diajarkan ibunya membuat kue. Ia juga pernah belajar di Bogasari. Keahliannya ia bawa ke Batam. Tidak hanya kue-kue, Didik juga membuat roti dan kue kering. Kue-kue berbahan buah naga bisa berhasil hanya sekali ekprimen, sementara rotinya harus eksprimen tiap hari. Dalam sehari bisa sampai tiga kali bereksprimen. Hasil ekprimennya itu dibagikan ke tetangga sampai tentangganya setiap hari kebagian kue dan roti. ‘’Sampai capek makan kue, dibilangin gila bikin kue terus,’’ katanya sembari tertawa.

Kue dan roti buatannya itu kemudian diceritakan kepada teman dan koleganya. Dari situ mulai datang permintaan kue dan roti. Promosi dari mulut ke mulut ternyata lebih cepat. Kini pelanggannya kebanyakan perusahaan swasta dan rumah sakit, seperti Britoil Offshore, Eco Green, RSAB, RSBK, area smoking bandara, konter Bakso Malang, dan konter soto Kudus. Perusahaan penerbangan juga sudah melirik roti buatannya. Sementara pelanggan perorangan tiap hari ada dan terus bertambah.

Usaha yang dimulai enam bulan lalu ini bermodal Rp36 juta untuk membeli mixer besar dan open serta bahan-bahan kue. Sementara omsetnya terbilang lumayan meski baru enam bulan. Tiap hari ratusan roti dipesan pelanggan, di luar kue-kue.***